| P |
agi hari setelah selesai ulangan umum kenaikan kelas, dua orang sahabat yang ditugaskan untuk latihan paduan suara dalam rangka acara “prosesi wisuda kelas 9” itu menunggu di sebuah kursi panjang berwarna oranye kecoklatan. Mereka bernama Qisty dan Okta . Tidak lama setelah mereka duduk, datang satu orang sahabat laki-laki mereka bernama Awan. Awan berdiri di depan kedua anak perempuan itu dan mulai berbicara.
“Hai, kalian sedang apa disini?” tanya Awan “Sedang duduk saja sambil menunggu latihan dimulai.” Jawab Okta “Kamu belum pulang, wan?” tanya Qisty “Hmm, belum. Emangnya kenapa?” tanya Awan “Oh, bagus deh. Aku boleh minta tolong?” tanya Qisty“Minta tolong apa?” jawab Awan “Anterin aku dong ke counter pulsa. Boleh kan? Ayolaah.” Mohonnya “Hehehe, aku pulang dulu ya? Nanti aku anterin. Bolehkan? Haha.” Jelas Awan “Yasudah.” Jawab Qisty
Setelah Awan pulang, kedua anak perempuan itu diam tak bergerak sama-sama mengalihkan pandangannya kearah tukang bakso. Mau apakah mereka? Ya, tentu sudah jelas. Mereka pasti sudah lapar menunggu latihan paduan suara yang belum juga dimulai. Dua-duanya sama-sama berdiri, mengangkat satu kaki sebelah kanannya lalu dihentakan ke depan perlahan-lahan. Tiba-tiba, Okta berhenti.
“Stop! Kita mau ke Mas Marin?” tanya Okta “Hmm, ya mungkin. Sesuai pikiran kita dan perut kita yang sudah lapar” Jawab Qisty “Okelah, tapi kamu bawa uang ga?” Tanya Okta “Kurasaa, hmm.. uangku bersisa dua belas ribu rupiah lagi. Tapi ini untuk ongkos pulang dan beli pulsa. Ah, aku minta ke kamu aja deh. Boleh kan? He..he..he” Candanya “Haha… nggak jadi beli deh. Lama banget, apa kita kerumah Awan saja ya?” Jelas Okta ditambah dengan candanya. “Hmm, ayo boleh!” Jawab Qisty dengan semangat.
Tap… tap… tap
Seorang teman mendekati Okta dan Qisty. Tidak tahu apa yang ingin dilakukannya kepada Qisty dan Okta. Seorang perempuan berambut pendek dan dikuncir kuda dengan ukuran yang kecil. Dia adalah Agatha. Agatha lari dan melompat.
“HEI!” panggil Agatha “Astaghfirullah! Agathaaa!” teriak Qisty dan Okta dengan jantung yang berdebar cepat “Ah, ada apa sih? Kamu mengaggetkan kami saja!” Tanya Qisty dengan wajah yang sedikit marah “Haha, maafkan aku. Aku tadi Cuma iseng kok. Ha…ha…ha… kalian mau kemana?” Tanya Agatha sambil tertawa iseng “Huh, kami hanya mau ke rumah Awan. Kenapa?” Jawab Okta “Oh, mau ngapain kalian kesana? Aku ikut ya? Boleh kan?” Tanya Agatha “Yaya, terserah kamu. Boleh saja, mari!” Ajak Qisty
Dari sekolah menuju rumah Awan tidak terlalu jauh, hanya kurang lebih dua puluh langkah besar kalau dihitung-hitung. Ha..ha..ha.. pakai dihitung segala ya? He..he..he..
“Yang mana rumah Awan?” tanya Agatha “Di depan. Rumah kedua dari sebelah sini.” Jawab Qisty sambil menunjuk rumah yang paling ujung “Lihat tidak? Rumah yang terdapat garasi mobil yang mempunyai model sama seperti atap saung-saung? Itu rumahnya.” Jelas Qisty “Oh, yang itu.” Jawab Agatha. “Emang kalian mau ngapain kerumah Awan?” tanya Agatha “Mau minta anterin beli ke counter pulsa tuh si Qisty.” Jawab Okta sambil sedikit meledek. “Oh, okelah. Haha.” Jawab Agatha.
Sesampai dirumah Awan, ketiga perempuan itu berdiri di depan pagar rumah Awan. Qisty pun memencet bel yang terletak di depan rumahnya. Ting…tong…ting…tong… sosok laki-laki berbaju putih-biru keluar dari pintu belakang yang berwarna putih.
“Hai, ada apa? Mana Qisty? Katanya dia mau minta dianterin beli pulsa?” Tanya Awan “Ituu, ngumpet dibalik tembok. Haha..” Jawab Agatha dan Okta “HAI! Aku disini!” Teriak Qisty sambil lompat dari tempatnya tadi. “Awan, jadi kan?” Tanya Qisty “Ya, jadi. Ber-empat kan?” Jawab Awan “Ya, ber-empat.” Jawab Qisty “Ih, aku mah ga mau ikut!” Jawab Agatha dan Okta “Kalian berdua sajalah. Kami berdua tidak mau ikut.” Jelas Okta sambil mengalihkan wajahnya “Ih, kamu gitu. Ayodong ikut. Masa aku berdua sama awan?” Tanya Qisty “Yaudah, kalo aku disuruh ikut sama kamu, asal anterin aku beli minum dulu ya?” Ajak Okta “Yasudah. Kalian beli minum dulu gih. Aku tunggu disini.” Jawab Awan “Okelah. Tunggu bentar ya, wan?” Jawab Qisty sambil meminta “Sip.” Jawab Awan
Kembali ke depan sekolah yang bertujuan untuk membeli minuman segar. Banyak sekali pedagang-pedagang yang berjualan di depan sekolah itu. Okta membeli satu minuman segar rasa jambu dan mie goreng. Qisty berdiri sambil memperhatikan Okta yang membeli jajanan itu. Ya pasti Qisty lapar, dia punya uang dua belas ribu rupiah lagi tapi tidak mau dibelikan jajanan dulu sebelum uang itu dibelikan pulsa.
“Ayolah, ta. Kita kembali kerumah Awan.” Ajak Qisty “Lah, terus padusnya gimana?” Tanya Okta “Ah, udah biarin belum dimulai gini.” Jelas Qisty “Ih, takutnya dimarahin bu guru!” Sentak Okta “Lihat deh! Masih banyak anak-anak padus yang masih jajan dan berkeliaran diluar kan?” Jelas Qisty sambil tertawa “Ah, iya juga! Yasudah deh.” Jawab Okta
Tiba-tiba, Agatha muncul.
“Gat, yang paduan suara udah mulai belum sih?” Tanya Okta “Tidak tahu. Sepertinya sih belum.” Jawab Agatha “Oalaah, yasudah deh kita langsung ke rumah Awan aja.” Jelas Okta “Okedeh.”
Tiiiin…tiiiiinn…tiiiinnn… suara motor yang terdengar dari belakang kami bertiga. Ternyata, pengendara motor itu adalah kakaknya Agatha.
“Agatha, ayo pulang. Disuruh mamah pulang.” Ajak kakak “Yah, tapi nanti mau paduan suara ,kak.” Jelas Agatha “Ah, cepat! Mau pergi!” Bentaknya “Yasudah.” Jawab Agatha “Dadah Qisty dan Oktaaa!” Kata Agatha sambil melambaikan tangan “Qis, jadi kerumah Awan?” Tanya Okta “Iya dong jadi. He..he..he..” Jawab Qisty
Mereka berdua pun jalan perlahan-lahan berdua menuju rumah Awan. Qisty sambil melihat kearah sekolah mereka. Melihat anak-anak yang ikut paduan suara. Ternyata mereka masih pada bermain. Yaa… mereka lanjutkan saja dan berjalan kembali. Sesampainya di depan rumah Awan, Awan pun muncul menghampiri mereka.
“Qisty, jadi tidak? Lalu mana Agatha?” Tanya Awan “Jadi dong. Ayolaah kita berangkat. bila tidak ada pulsa gimana aku mau menghubungi ibuku saat pulang nanti? Oh, si Agatha. Dia disuruh pulang tadi. Makanya hanya kami berdua yang berada disini.” Jelas Qisty “Iya, iya. Ayo kita berangkat. Oh, begitu. Ya, tidak apa-apa deh.” Jawab Awan “Jangan banyak bicara! Ayo kita jalan!” Bentak Okta yang sudah kesal karena lama menunggu.
Perjalanan dimulai. Jarak counter pulsa dengan rumah Awan memang cukup jauh. Tapi, perjalanan ini memang menyenangkan. Sesampainya di counter pulsa yang pertama mereka datangi. Qisty memberi salam .
“Assalamu’alaikum!” Ucapnya dengan nada yang sedikit tinggi “Wa’alaikum salam! Ada apa ,dik?” Jawab ibu-ibu penunggu counter pulsa itu“Maaf, bu. Disini jual pulsa tidak?” Tanya Qisty “Iya, operator apa ya ,dik?” Tanya ibu itu “Ini ,bu. Kartu XL. Jual ga ,bu?” Tanya Qisty “Oh, maaf ,dik. Disini gak jual. Maaf ya ,dik?” Jelas ibu itu “Oh, yasudah ,bu. Tidak masalah kok. Terima kasih ya ,bu?” Ucapnya “Iya ,dik. Sama-sama.” Jawab ibu itu “Hai, gimana ,Qis? Ada tidak pulsanya?” Tanya Awan “Huh, nggak ada. Kita cari ke tempat yang lain yuk?” Ajak Qisty “Ayolaah!” Jawab Okta dan Awan.
Baru saja satu langkah mereka berjalan. Tiba-tiba seorang teman lewat di depan pandangan mereka. Seorang teman bertubuh gemuk dan tinggi itu bernama Rendy.
“Hei ,Ren!” Sapa Awan “Hai juga ,wan. Ada apa?” Tanya Rendy “Kamu tahu dimana tempat counter pulsa selain disini?” Tanya Awan “Oh, iya. Aku tahu. Mari ikut aku!” Ajak Rendy “Yey! Akhirnyaa!” Teriak kedua anak perempuan itu
Berjalan mengikuti si penunjuk jalan alias Rendy, tampaknya Qisty dan Okta terlalu lelah karena mengikuti Rendy yang jalannya cepat, akhirnya mereka semua berhenti disebuah taman yang terdapat satu perosotan tinggi. Sambil menikmati mie dan minuman segar yang belum habis itu, Okta duduk tenang seperti orang yang sedang melihat bunga-bunga indah yang bermekaran di taman. Sehabis makan, tersisa sedikit mie dan minuman itu. Qisty yang dari tadi lapar dan selalu melihat makanan dan minuman yang dipegang Okta itu langsung dipintanya.
“Okta, boleh aku meminta sisa makanan dan minuman milikmu itu? Sumpah! Aku lapar dan haus sekali!” Jelasnya “Boleh ko. Kebetulan dari tadi aku sudah kenyang. Daripada dibuang, lebih baik aku beri ke kamu saja. Ini untukmu.” Jelas Okta sambil memberi makanan dan minumannya itu kepada sahabatnya “Terima kasih ya sahabatku?” Ucap Qisty “Ya, tentu. Sama-sama.” Jawab Okta.
Selesai makan, keempat anak itu melanjutkan perjalanannya yang sudah tidak jauh dari taman tadi itu. Sesampainya di depan counter pulsa…….
“Ini tempatnya. Aku pulang dulu ya?” Jelas Rendy “Oh, okey. Makasih ya ,Rendy?” Tanya Awan sambil berterima kasih “Ya, sama-sama.” Jawab Rendy
Rendy pulang, sisa ketiga anak ini. Qisty dan Okta disertai Awan, masuk kedalam counter pulsa itu.
“Assalamu’alaikum. Permisi ,bu. Disini jual pulsa kan?” Tanya Qisty “Ya ,dik. XL ya ,dik?” Balas ibu itu sambil bertanya “Iya ,bu. Ada kan bu? Kalau ada, berapa harganya?” Tanya Qisty “Ada kok ,dik. Yang lima ribu, harganya enam ribu rupiah.” Jawab ibu itu “Oh ,bu. Terima kasih, ini uangnya dan ini nomornya sudah aku catat ,bu. Terima kasih ya?” Ucap Qisty “Ya, sama-sama. Sudah masuk kan pulsanya ,dik?” Tanya ibu itu “Sudah kok ,bu. Aku permisi dulu ya? Assalamu’alaikum.” Ucap Qisty “Iya. Wa’alaikum salam.” Jawab ibu itu lagi
Jalan-jalaaan sambil nyanyi gembira riang…riaaaang… kaki kiri…TAP…TAP…kaki kanan…TAP…TAP…
Ditengah jalan, mereka bertemu tiga sahabat lagi yang sedang jalan di sebelah kiri. Satu anak yang berada di sebelah kanan dari ketiganya itu bernama Akbar, yang tengah bernama Khemal Nah! Yang terakhir disebelah kiri bernama Edo.
“Akbaaar! Edooo! Khemaaal!” Teriak ketiga anak ini “Apaaa?” Jawab Akbar
Qisty, Okta dan Awan pun lari menghampiri ketiga anak itu. Ketiga anak laki-laki yang sedang jalan diipinggir jalan sebelah kiri.
“Hai! Kalian mau kemana?” Tanya Okta “Mau main. Kalian mau ikut?” Jawab Khemal sambil menawarkan “Mau…mau aja. Tapi kami berdua harus padus.” Jawab Qisty “Padus? Bukannya sudah dimulai dari tadi ya? Sudah lama.” Jelas Edo “Apaa?! Mulai?! Yaah. Terus gimana ini ,qis?” Tanya Okta sambil sedikit syok dan kaget “Yah, sudahlah. Aku takut kalo ke sekolah pasti akan dimarahi.” Jelas Qisty sambil mengeluh “Yasudah, kita ikut main aja. Tapi mau main kemana?” tanya Qisty lagi “Ke rumah Akbar “Oh, kerumah Akbar. Ya, aku ikut deh. Kamu mau ikut ,qis?” Awan menawarkan “Aku mau!” “Aku juga mau.” Sambung Okta
Berjalan ber-enam semuanya saling bercanda-canda, tertawa bersama. Setelah menyebrangi jalan, Edo berpamitan kepada kelima sahabatnya.
“Teman-teman, aku pulang dulu ya?” Ucap Edo “Loh, kok? Kenapa? Kenapa nggak ikut main saja?” Balas Qisty “Nggak ah. Aku mau pulang saja. Lain kali ya?” Jawab Edo “Yah, yasudah.” Jawab Qisty “Hei, jemput Glenn yuk?” Ajak Khemal “Ayuk!” Jawab Awan, Akbar, Okta dan Qisty “Emang dimana rumahnya Glenn?” Tanya Qisty kepada Akbar “Deket. Di Jalan Baja 1.” Jawab Akbar “Oh, disana. Okelah, oke. Ha…ha…ha…” Jawab Qisty
Saat tiba di depan rumah Glenn, anak-anak langsung memanggil Glenn.
“Gleeenn…Gleenn… Assalamu’alaikum.” Panggil mereka ber-lima “Iyaa… tunggu sebentar.” Jawab Glenn sambil membuka berjalan dan membuka pintunya “Ya, ada apa?” Tanya Glenn “Glenn, ikut main yuk?” Ajak Akbar “Ayuk! Tunggu yaa sebentar?” Jawab Glenn
Kreekk…kreekk…kreekk… suara pintu yang terdengar dari arah dapur, membuat semuanya bergerak.
“Ayo kita berangkat!” Seru Glenn
Semua pun bergerak, berjalan gembira. Perjalanan kerumah Akbar lumayan jauh dari rumah Glenn kalau tidak menggunakan kendaraan atau hanya berjalan kaki. Biarpun berjalan kaki, tetap seru, perkenalan awal dari persahabatan yang ceria.
Sesampainya dirumah Akbar, mereka ber-lima disertai Glenn dipersilahkan masuk kedalam rumahnya Akbar. Mereka didalam bermain kartu. Seru sekali. Kartu UNO yang mereka mainkan dengan ditambah satu mangkuk kecil berisi bedak bayi yang wangi. Ha…ha… bedak itu akan mereka gunakan kepada orang yang kalah dalam permainan itu. Tetapi, anehnya. Okta tidak mau ikut bermain karena tidak bisa memainkan kartu UNO itu. Akhirnya, Okta pun hanya melihat mereka ber-lima itu bermain bersama.
“UNO!” Teriak Akbar sambil memegang satu kartu UNO yang tersisa ditangannya “Ah, aku telat mengatakannya!” Ucap Khemal mengeluh “Game! Yayy, aku menang pertama! Tinggal kalian ber-empat.” Seru Akbar dengan gembira
Semuanya berusaha agar menang. Tidak ada yang mau jadi juara tiga dan empat. Karena, kalau ada yang jadi juara empat dan lima, bisa diberi bedak. Ha…ha… muka mereka seperti badut deh jadinya. Ha…ha… GAME! GAME! Awan dan Khemal berhasil jadi pemenang kedua dan ketiga. Sisa tinggal Glenn dan Qisty. Wah, mereka berdua terkena serangan bedak bayi. Ha…ha… kini wajah mereka seperti badut.
Setelah satu setengah jam mereka bermain, suara adzan merkumandang. Suara adzan dzuhur dihari jum’at membuat mereka menyelesaikan permainan mereka. Karena kebanyakan anak laki-laki, jadi anak laki-laki bergegas untuk melaksanakan shalat jum’at bersama di masjid. Semuanya keluar dari rumah Akbar. Pada saat itu juga, persahabatan mereka diawali dengan adanya permainan kartu UNO dan juga mereka menyebut diri mereka anak-anak UNO atau anak yang suka bermain kartu UNO.
Begitulah ceritanya, persahabatan ber-arti bagi kita semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar