Mengejar Sebuah Misteri
Menangkap pencuri
Di sebuah desa yang bernama Desa Merdeka, tinggallah seorang anak bernama Anto. Anto adalah anak yang sangat prihatin kepada Desa tempat tinggalnya itu karena sering menglami pencurian dari rumah ke rumah. Walaupun rumahnya itu besar dan tingkat. Suatu hari, aku mendengar suara rebut dari luar sana
“Malam-malam begini ko aku mendengar keributan dari luar sana ya? Suara ribut apa ya itu? Ah, coba aku lihat sajalah dari pada aku penasaran” kata Anto
Lalu, Anto pun melihat ke luar jendela kamar Anto. Anto pun kaget saat itu. Ternyata, ada tiga orang pencuri yang sudah tidak asing lagi. Pencuri itu selalu saja mencuri barang-barang yang ada di rumah milik tetangga depannya itu.
“Kasihan sekali tetanggaku. Aku ingin sekali menangkap pencuri itu, tapi aku sama sekali tak tahu caranya gimana” ucap Anto
Lalu, Anto berfikir untuk menemukan caranya agar bisa menangkap pencuri itu. Ia semakin serius berfikir, berfikir dan berfikir.
“Aha!! Aku tau caranya” teriak Anto
Keesokan harinya, di sekolah, Ia memanggil ketiga orang sahabatnya itu. Mereka bertiga bernama Pipit, Angga dan Dito. Anto ingin sekali sahabat-sahabatnya itu membantunya agar bisa menyelidiki kasus ini.
“Angga, Dito dan Pipit. Maaf kalian aku panggil kesini. Mau ada urusan penting yang ingin aku bicarakan ke kalian” ucap Anto lancang
“Emangnya ada apaan, to?” ucap Dito bingung
“Iya, emangnya ada apa?” jawab Pipit dan Angga serempak
“Begini ceritanya. Kemarin malam, aku melihat tiga orang pencuri. Mereka mencuri semua barang-barang milik tetanggaku yang kaya itu. Nah, aku ingin kalian membantu aku untuk menyelidiki dan menangkap pencuri itu” jawab Anto
“Oh, begitu. Serahkan saja pada kami bertiga ini” ucap Pipit gembira
“Lah, akunya? Ga ikutan?” jawab Anto kaget
“Oh iyaya. Lupa akunya. Hehe..hehe..hehe” tawa Pipit
“Okedeh,, jangan lupa Rabu depan jam 19.30 WIB, setelah shalat isya, kalian kerumah aku ya?” jawab Anto
“Sipp boss!” jawab ketiga anak itu dengan serempak
Tiba waktunya jam 19.30 WIB akhirnya mereka datang. Anto mengambil sekantung cemilan gabin, buah dan sebotol sirup dan sebotol air putih untuk mereka, menggelar karpet di kamarnya untuk kami berbincang-bincang. Tok..Tok..Tok.. dengarku pada sebuah pintu utama rumah Anto.
“Assalamu’alaikum .. Anto..Anto” triak mereka bertiga
“Wah, mereka sudah datang. Sebaiknya aku cepat-cepat membukakan pintu” ucap Anto
“Ade!! Ada temennya tuh!” triak ibuku
“Iya , bu! Tunggu” triak aku sambil turun tangga
“Wa’alaikum salam.. maaf lama ya? Silahkan masuk. Kita ngobrol di kamarku saja ya?” jawab Anto
“Iya” jawab mereka serempak
Sesampainya di kamar, Anto tidak tahu kalo ada adiknya yang memakan pisang dan membuang kulit pisang sembarangan. Gubrakkk!! Suara itu yang membuat teman-temannya kaget.
“Kenapa kamu, to?” Tanya Pipit heran
“Ini kulit pisangnya si ade!” jawab aku kesakitan
“Oh, hati-hati dong” jawab Pipit sambil menahan tawa
Terlihat lantai kamar Anto yang kotor dan licin gara-gara terletaknya kulit pisang dilantai, jadi Anto harus membersihkannya lagi. Srett..srett..srett cipluk..cipluk..cipluk alat pel dan air terdengar jelas.
“Haduh selesai juga akhirnya. Capek sekali” ucap Anto lesu
Sekarang pukul 20.25 WIB setelah Anto menyelesaikan tugasnya untuk mengepel lantai. Tiba-tiba, terdengarlah suara seperti minggu lalu aku dengar. Anto mulai bingung, masa ada pencurian yang sering sekali terjadi.
“Eh, teman-teman. Aku curiga deh sama tetangga sebelah” ucap anto
“Bingung kenapa, to? Gara-gara pencurian itu ya?” Tanya Angga
“Iya, Ga. Bingung banget” jawab Anto
“Yasudah. Sebaiknya kita selesaikan ini secepatnya” ucap Dito
Sekarang pukul 21.30 WIB. Kami pun selesai membuat rencana dan selesai berbincang-bincang.
“Sudah seharusnya kalian pulang. Ini sudah malam, besok kita kan sekolah” ucap Anto
“Iya , to. Makasih ya?” tanya anak-anak serempak
“Seharusnya aku yang berterima kasih sama kalian semua” jawab Anto
“Iya deh, kami pulang dulu ya? Dadah. Sampai jumpa besok di sekolah. Asalamu’alaikum” ucap Dito
“Walaikum salam. Hati-hati dijalan ya?” jawab Anto
Beberapa jam kemudian. Kringgg…Kringgg..Kringgg suara bel Pulang telah berbunyi. Kami pun keluar kelas dengan senangnya. Seiring berjalannya waktu, malam telah tiba. Suara aneh yang sudah tidak asing lagi pun terdengar. Anto pun segera menelpon ketiga sahabatnya itu, Anto menyuruh mereka datang kerumah Anto . Biar tidak ngabisin biaya telpon, mendingan dari handphonenya saja, akan Anto setel konfrensinya.
“Kriinnggg…kriiinggg..kriinggg.. Halo assalamu’alaikum, to. Ada apa malem-malem begini nelpon aku” jawab mereka bertiga serempak
“Wa’alaikum salam. Begini lho, aku mau kalian datang sekarang agar bisa melihat orang yang sedang mencuri itu. Aku tunggu di depan pintu rumahku ya? Jangan lupa membawa senter dan jaket. Soalnya disini udaranya lagi dingin banget deh” jelas Anto
“Oke-oke.. kami akan segera kesana. Dah, assalamu’alaikum” jawab mereka bertiga dengan tergesa-gesa
Sudah 15 menit yang lalu, mereka belum juga datang. Anto sabar menunggu kedatangan mereka. Tinn..tinn..tinn.. Klakson mobil teman-temannya itu berbunyi, itu berarti mereka semua sudah di depan pagar. Lalu, Anto berlari kedepan pagar dan membukakan pintu untuk mereka. Krikk..krikk..krikk suara roda pagar rumah Anto yang sudah tidak ber-oli itu mengeluarkan bunyi yang nyaring. Breemm..breemm..breemm.. suara ketiga mobil itu masuk ke dalam garasi rumah Anto. Setelah mobil itu diparkirkan kedalam garasi rumah Anto, Anto pun menyuruh mereka duduk di teras rumah.
“Anto, mana pencuri itu? Aku sangat penasaran nih!!” paksa Pipit
“Iya..iya..iya sabar. Aku mau mengambil jaket dan senter dulu” jawab Anto
Setelah Anto mengambil jaket tebalnya, kami pun keluar rumah dan melihat satu rumah besar yang sering dicuri itu. Suara itu sangat jelas terdengar di telinga kami. Kami pun akhirnya masuk kedalam rumah itu.
“Ayo..ayo.. kita masuk, tapi jangan berisik ya? Takut mereka tahu kalau kita lagi memata-matai mereka” jelas Anto
Kami pun jalan dengan sangat lambat agar tidak ketahuan oleh si pencuri. Anto melihat ketiga orang tersebut sedang mengangkat barang dengan menggunakan baju berwarna hitam dan topeng kain berwarna hitam. Satu persatu barang dikotak yang penuh debu tersebut,
“Anto, kenapa kita tidak segera menhubungi polisi? Ini mencurigakan tau!” jelas Dito
“Iya ya.. kamu benar juga. Cepat, hubungi polisi! Kamu bawa handphone kan?” Tanya Anto
“Bawa..bawa.. tenang aja!” jawab Dito
Kringg..kringg..kringg.. suara utama saat kita menelpon itu terdengar. Kantor polisi pun belum menjawab.
“Halo.. assalamu’alaikum. Kami dari kantor polisi, ada yang bisa kami bantu?” jawab seorang polisi
“Wa’alaikum salam, pa. kami ingin memberitahukan kalau rumah di Desa Merdeka jalan merah nomor 2 telah di masuki pencuri. Kami harap Bapak Polisi dan teman-teman bapak agar ke rumah ini sekarang” jawab Dito dengan pelan
“Oke.. dik. Terima kasih atas laporannya. Bapak dan kawan-kawan akan segera kesana. Assalamu’alaikum” jelas Pak Polisi
“Wa’alaikum salam” jawab Dito
Setelah menunggu selama 20 menit, akhirnya rombongan polisi pun datang. Mereka membawa pistol dan memasuki rumah tersebut.
“Sebaiknya, kalian berpencar ya?” jelas Polisi yang Satu
“Baik, pak!” jawab Polisi yang lain dengan tegas
“Wah..wah.. ada polisi datang, sebaiknya kita lari!!” ucap pencuri dengan tergesa-gesa
Pencuri itu akhirnya kabur dari ruangan utama. Saat mereka keluar, kami dan polisi sudah berdiri sebelumnya dihadapan sang pencuri dengan membawa borgol besi.
“Ha..ha..ha.. mau lari kemana kalian pencuri? Kalian tidak akan bisa lari!” jelas Anto dengan lancang
“Borgol mereka! Ayo cepat lah , nak!” tegas ketiga Pak Polisi
“Hey teman-teman.. pencuri yang kita cari-cari dari dulu sudah ketemu!” teriak sang Jendral
Tiba-tiba wartawan dari stasiun televise datang ke tempat kejadian. Kami pun jadi masuk tv dan di wawancarai. Kami seperti dijuluki detektif pemata-mata.
“Dik, gimana caranya sampai adik bisa menangkap dan mengetahui keberadaan sang pencuri?” Tanya salah satu wartawan cantik yang mewawancarai kami
“Begini lho, mbak. Sebelumnya, saya sudah curiga dengan suara gaduh yang sering terdengar saat malam hari. Keesokan harinya, saat disekolah saya meminta bantuan ketiga sahabat saya ini untuk menyelidiki kasus ini. Setelah berkali-kali kami mendengar suara yang sama, akhirnya kami bertiga membuat rencana. Setelah rencana itu dibuat dengan sukses, kami pun memulai rencananya sekarang. Begitulah ceritanya” jelas Anto dengan senang
“Oh, begitu. Hebatnya adik-adik ini. Terima kasih ya adik-adik” Tanya sang wartawan
“Sama-sama , ka “ jawab Angga yang genit
Pencuri itu pun dibawa ke Kantor polisi. Dan kami pun pulang ke rumah Anto. Di rumah Anto, kami bersenang-senang karena kami dapat menyelesaikan misi utama kami.
Ambil Kembali Uangku
Keesokan harinya di kelas. Anto melihat teman-temannya sedang serius bercerita tentang kisah sedih dan Anto pun tertarik untuk mendengarkan cerita tersebut. Gara-gara terlalu serius, Anto pun sampai mau tertidur pulas. Ha..ha..ha.. itu rasanya Anto ingin tertawa terbahak-bahak kalau mengingat kejadian itu di kelas.Mulailah pelajaran pertama, betapa sulitnya pelajaran Ekonomi yang sekarang.
Sesaat kemudian, kring..kring.. bel istirahat telah berbunyi. Anto dan sahabat-sahabatnya keluar kelas untuk mecari jajanan yang enak dan sehat. Sesampainya di kantin, Anto sangat kebingungan melihat Jessica anak kelas 7.2 itu, Anto mau menyapa dan menanyainya, tapi Anto malu.
“Ah, buat apa aku malu mengerjakan hal yang baik dan bisa membantu teman sendiri? Lebih baik kan aku kesana” tegas Anto
Akhirnya Anto berdiri di depan Jessica dan mulai bertanya
“Ada apa, jess? Ko kelihatannya sedih gitu?” Tanya Anto
“Begini lho, to ceritanya. Tadi pagi, aku kan mau bayar SPP. Sewaktu aku membuka tas, uang itu hilang tak tahu kemana. Aku sedih, kalo sampe ibuku tahu dan aku dimarahi gimana? Hu..hu..hu” jawab Jessica dengan perasaan yang sedih
“Oh Begitu ya? Coba aku akan mencari tahu. Kalo aku tahu siapa pencurinya itu, aku akan melaporkan orang tersebut ke guru BK. Agar mereka tahu rasa” jawab Aku
Sewaktu Anto lagi makan bakso bareng Pipit, Jessica, Dito dan Angga, Anto melihat si Ray sedang bersenang-senang meneraktir para sahabtnya itu. Saat itu pun Anto curiga melihat tingkah laku Ray dan kawan-kawan yang mencurigakan. Anto melihat 2 lembar uang Rp100.00; dan 1 lembar uang Rp50.000; lalu Anto bertanya ke Jessica.
“Jess, sebesar apakah nominal uang yang hilang itu?” Tanya Anto
“Rp250.000;” jawab Jessica
“Apakah terdapat 2 lembar 2 lembar uang Rp100.00; dan 1 lembar uang Rp50.000; ?” Tanya Anto lagi
“Iya bener. Kok kamu tahu sih, to?” Jawab Jessica
“Lihat deh di sebelah sana. Ada Ray teman sekelas kita yang membawa uang sebesar itu. Apakah itu uangmu?” jelas Anto
“Iya, di meja itu pun ada pelastik kiloan yang aku gunakan untuk bungkusan uang itu juga. Wah jangan-jangan mereka yang mencurinya!” Bentak Jessica
“Iya tuh bener. Udah, tunggu apa lagi. Segera kita laporkan ke guru BK. Biar mereka tahu rasa!!!” sambung Dito dan Angga
“Oke, sebaiknya kita bergegas sekarang. Cepat..Cepat!! habiskan bakso kalian!” jelas Anto
Kami berlima pun berjalan menuju ruang BK dengan serempak. Sesampainya di ruang BK, kami langsung berbicara kepada Bu Yati
“Assalamu’alaikum.. permisi ,bu. Saya dan teman-teman ingin memberitahukan kalo Jessica teman kami telah kehilangan uang untuk pembayaran SPPnya itu” jelas Anto
“Lha, ko bisa hilang? Emang kamu simpan di mana ,nak uangnya?” Tanya Bu Yati
“Aku simpan tas yang bagian kantungnya paling aman” Jawab Jessica
“Oh. Apa kamu sudah tahu siapa yang mengambil uangnya itu?” Tanya Bu Yati
“Kurasa aku yakin kalau pencurinya itu si Ray dan kawan-kawannya, bu” jelas Jessica
“Haduh.. mereka lagi.. mereka lagi yang buat masalahnya. Mereka sudah memiliki 50 poin sanksi lho!” jawab Bu Yati
“Memang benar, bu. Tadi saja aku melihat mereka membawa uang sebanyak 2 lembar uang Rp100.00; dan 1 lembar uang Rp50.000; jadi Rp250.000;. sama seperti nominal uang yang Jessica punya” jelas Anto dan Pipit
“Itu nominal yang banyak. Hayu, atuh lah. Cepet! Ibu mau menghukum mereka.” Jelas Bu Yati
Sesampainya di kantin, masih terlihat wajah Ray dan kawan-kawan yang sedang bersenang-senang. Lalu Bu Yati datang bersama kami ke arah mereka semua dan mereka pun dimarahi dan dibentak.
“Ray, sudah berkali-kali kamu melakukan hal yang sama! Kembalikan uang Jessica atau kalian akan Ibu laprkan ke Kepala Sekolah dan Orang Tuamu!” Bentak Bu Yati
“Ampun,, bu.. ampun.. iya deh kami akan kembalikan uangnya. Tapi, tinggal sedikit. Tinggal Rp200.000;” jelas Ray
“Tiada ampun bagimu! Akan ibu kasih 15 poin untukmu dan teman-temanmu Ray!” bentak Bu Yati lagi
“Maafkan kami ,bu. Kami menyesal” jawab Ray sedih
Kasihan sekali ya mereka. Itulah akibatnya jika kita mencuri barang milik orang lain. Akhirnya, uang saku si Ray dan teman-temannya diambil oleh Bu Yati untuk mengganti uang Jessica yang sudah dipakainya untuk bersenang-senang. Masalah ini pun selesai dan Ray dan kawan-kayan mendapat poin sanksi lagi sebanyak 15 poin.
Rumitnya Matematika
Pukul 08.00
Namaku Grace, aku adalah siswi kelas tujuh SMP Negeri Semangat dan di semester ganjil, aku mendapat peringkat pertama. Sekarang sudah memasuki semester genap. Suasana di kelasku ramai dan saat itu pun anak-anak sedang menunggu jam pertama pelajaran matematika, aku pun bersenang-senang bila pelajaran itu dimulai dan aku pun selalu siap untuk belajar matematika. Beberapa menit kemudian, ibu guru kesayanganku pun datang. Ia bernama Bu Wid. Biasa, sebelum belajar pasti kita berdoa terlebih dahulu. Setelah berdoa, kami pun memulai pelajaran. Sewaktu dimulainya pelajaran, aku tak sadar bahwa sekarang sudah memasuki semester genap dan aku pun lupa membawa buku semester genap. Bu Wid yang sudah siap mengajar, tiba-tiba melihatku dengan penuh kebingungan
“Grace, kenapa kamu? Kok belum mengeluarkan bukunya dari tasmu?” Tanya Bu Wid kepada aku.
“Ngh, ittttuuu ,bu. Saya lupa membawa bukunya.” Jelas aku sambil gugup.
“Kok kamu bisa lupa bawa bukunya? Bukannya sudah ada jadwalnya?” Tanya Bu Wid lagi
“Memang sudah ada ,bu. Tetapi, saya lupa kalau sekarang sudah memasuki semester 2” aku merenung sambil menahan nangis
“Oh, itu. Sudah-sudah gak usah sedih. Kita masih menggunakan buku semester ganjil ko” jelas Bu Wid
“Terima kasih , bu. Huh, Alhamdulillah slamet” syukur aku saat itu
Untung masih belajar buku semester genap. Kalo nggak gimana? Aku pasti kena sanksi. Setelah Bu Wid menjelaskan contoh-contoh yang dipapan tulis, Bu Wid pun memberi soal untuk kami semua. Bu Wid mengambil soal itu dari buku soal Bu Wid sendiri. Aku kira matematika yang sedang dipelajari sekarang, sama gampangnya seperti waktu semester genap. Ternyata eh ternyata, soal ini lebih rumit. Aku pun pusing untuk menjawabnya. 4 buah soal yang diberiikan kepada kami, sudah 15 menit berlalu. Belum ada satu murid pun yang mengumpulkan jawaban itu, termasuk aku. Aku saja baru dapat menyelesaikan 3 buah soal. Akhirnya soal terakhir, soal ini lebih rumit dari ketiga soal tadi. Setelah 3 menit berlalu, aku pun mengumpulkan jawabannya ke Bu Wid. Setelah dinilai, yang biasanya aku mendapat nilai 100, sekarang berubah. Aku mendapat nilai 75. Yah, sayang sekali. Padahal aku hanya kurang nulis satu angka. Tidak lama kemudian, Bu Wid menyuruh kami untuk membuat kelompok yang masing-masing terdiri dari 4 orang siswa, untuk mengerjakan soal dipapan tulis. Aku pun sekelompok sama Lita, Aldo dan Tiyo. Kebetulan sekali, mereka adalah sahabat-sahabat baikku sejak kecil. Bu Wid memutuskan untuk memberi kami soal pembagian. Kebetulan juga, Lita sangat tidak suka dengan pelajaran yang mengenai tentang pembagian. Lita pun cemberut dan berwajah kesal.
“Ah, kenapa harus pembagian? Kenapa kita gak kebagian soal perkalian atau perpangkatan saja?” ucap Lita kepada kami bertiga
“Sudahlah, Lit. Terima yang ada aja, kenapa harus mengeluh. Setidaknya kamu berusaha walaupun tidak bias membantu kami bertiga ini dengan serius” ucap Aldo
“Iya. Benar ,Lit” ucap aku dan Tiyo
“Yassudahlah, demi kalian aku rela” jawab Lita lesu
“Baik anak-anak. Ibu kasih 2 soal untuk masing-masing kelompok. Dan ibu kasih waktu selama 20 menit” ucap Bu Wid
“Baik ,bu” jawab kami semua
Saatnya mulai. Kami pun berbagi tugas. Mulai dari aku yang mendapat tugas berhitung seperti biasanya, Aldo mendapat tugas mencari rumus, Tiyo mendapat tugas membantu aku berhitung dan mempresentasikannya nanti ke depan kelas, karena Lita tidak bias pembagian, akhirnya Ia hanya membantu Aldo mencari rumus dan menulis jawaban dipapan tulis. Tiba-tiba, aku diam melihat ke buku jawaban
“Kenapa kamu , Grace?” Tanya Aldo kebingungan
“Wah, do. Aku pusing ngerjainnya. Gimana nih? Duhh!!” Bantah aku
“Yah , Grace. Tumben gak bisa ngerjain soal ini.” Tawa Tiyo
“Yah , Tiyo malah ngetawain. Kalo aku bias, aku juga pasti ngerjainnya cepet ko. Makanya bantuin juga dong!!” marah aku kepada Tiyo
“Oh, begityu. Iya deh maaf. Jangan marah lagi ya? Sekarang juga aku bantu deh” jawab Tiyo sambil menyesal
20 menit berlalu, soal pun sudah selesai dan kami berempat pun siap-siap untuk maju kedepan. Oke, akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu kami semua sudah tiba. Kelompok kami pun akhirnya maju ke depan kelas menghadap ke Bu Wid dan teman-teman. Dengan rasa penuh percaya diri, kami pun dengan santai dan rileksnya maju kedepan. Syet..syet..syet..syet.. dengan lincahnya tangan Lita bergerak dipapan tulis sambil memeggang spidol berwarna hitam. Kalimat demi kalimat Tiyo mempresentasikan hasil kerja kami dan akhirnya selesai juga. Beberapa jam kemudian setelah semua pelajaran dilaksanakan, bel pulang pun berbunyi. Dan kami pun kembali pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku bercerita kepada ibu.
“Ibu…Ibu..Ibu ada cerita nih” seru aku kepada ibu dengan suara yang keras
“Ada apa sayang?” jawab ibu
“Tadi, aku tumben-tumbennya dapat nilai 75”jawabku sambil kesal
“Lha, kok kenapa? Tumben sekali anak ibu dapat nilai segitu?” kaget ibu
“Aku gak tahu bu” lesu aku
“Oh, kalau begitu, kurangi dulu main komputernya. Dan belajar sama ibu. Biar bisa memperoleh nilai yang dulu, yang bagus. Mau?” jawab ibu
“Mau , bu. Aku gak mau mengecewakan ibu” jawab aku